Tampilkan postingan dengan label wayang orang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wayang orang. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 November 2012

Wayang Orang



Wayang Orang merupakan bentuk perwujudan dari wayang kulit yang diperagakan oleh manusia.
Jadi kesenian wayang orang ini merupakan refleksi dari wayang kulit. Bedanya, wayang orang ini bisa bergerak dan berdialog sendiri.

Fungsi dan pementasan Wayang Orang, disamping sebagai tontonan biasa kadang-kadang juga digunakan untuk memenuhi nadzar.
Sebagaimana dalam wayang kulit, lakon yang biasa dibawakan dalam Wayang Orang juga bersumber dari Babad Purwa yaitu Mahabarata dan Ramayana. Kesenian Wayang Orang yang hidup dewasa ini pada dasarnya terdiri dari dua aliran yaitu gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta.
Perbedaan yang ada di antara dua aliran terdapat terutama pada intonasi dialog, tan, dan kostum.
Dialog dalam Wayang Orang gaya Surakarta lebih bersifat realis sesuai dengan tingkatan emosi dan suasana yang terjadi, dan intonasinya agak bervariasi.

Dalam Wayang Orang gaya Yogyakarta dialog distilisasinya sedemikian rupa dan mempunyai pola yang monoton.

Hampir semua group Wayang Orang yang dijumpai menggunakan dialog gaya Surakarta.
Jika toh ada perbedaan, perbedaan tersebut hanya terdapat pada tarian atau kadangkadang pada kostum.
Untuk menyelenggarakan pertunjukan wayang orang secara lengkap, biasanya dibutuhkan pendukung sebanyak 35 orang, yang terdiri dan:
(1) 20 orang sebagai pemain (terdiri dari pria dan wanita);
(2) 12 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara;
(3) 2 orang sebagai waranggana;
(4) 1 orang sebagai dalang.

Dalam pertunjukan Wayang Orang, fungsi dalang yang juga merupakan sutradara tidak seluas seperti pada wayang kulit.

Dalang wayang orang bertindak sebagai pengatur perpindahan adegan, yang ditandai dengan suara suluk atau monolog.

Dalam dialog yang diucapkan oleh pemain, sedikit sekali campur tangan dalang. Dalang hanya memberikan petunjuk-petunjuk garis besar saja. Selanjutnya pemain sendiri yang harus berimprovisasi dengan dialognya sesuai dengan alur ceritera yang telah diberikan oleh sang dalang.

Pola kostum dan make up Wayang Orang disesuaikan dengan bentuk (patron) wayang kulit, sehingga pola tersebut tidak pernah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertunjukan Wayang Orang menggunakan konsep pementasan panggung yang bersifat realistis.
Setiap gerak dari pemain dilakukan dengan tarian, baik ketika masuk panggung, keluar panggung, perang ataupun yang lain-lain.

Gamelan yang dipergunakan seperti juga dalam wayang kulit adalah pelog dan slendro dan bila tidak lengkap biasanya dipakai yang slendro saja.

Lama pertunjukan wayang orang biasanya sekitar 7 atau 8 jam untuk satu lakon, biasanya dilakukan pada malam hari.

Pertunjukan pada siang hari jarang sekali dilakukan.
Sebelum pertunjukan di mulai sering ditampilkan pra-tontonan berupa atraksi tari-tarian yang disebut ekstra, yang tidak ada hubungannya dengan lakon utama.


Sumber : http://wayang.wordpress.com/2010/07/30/wayang-orang/

Kesenian Wayang Orang Kurang Diminati

Pertunjukan wayang orang yang digelar setiap Sabtu malam di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang selama ini kurang diminati masyarakat, sebab dari 300 kursi yang tersedia rata-rata hanya terisi 100 kursi.

Pimpinan Wayang Orang Ngesti Pandowo, Cicuk Sastrosoedirdjo, di Semarang, Kamis, mengatakan sedikitnya penonton yang menyaksikan pertunjukan wayang orang selama tiga jam tersebut karena kurang publikasi, padahal harga tiketnya hanya Rp10.000.
Namun, menurut dia, jumlah penonton tersebut tetap lebih banyak daripada tahun lalu setelah Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip mewajibkan siswa SD, SMP, dan SMA/SMK menyaksikan wayang orang dan ketoprak.
Sebelum ada instruksi wali kota untuk melestarikan warisan budaya itu, katanya, jumlah penonton wayang orang setiap kali pertunjukan tidak sampai 100 orang.
Ia mengatakan, dengan pemasukan dari penjualan sebanyak 100 tiket, berarti pendapatan setiap pekan hanya satu juta rupiah atau empat juta rupiah sebulan.
“Kami memang mendapat bantuan dari APBD Rp33,9 juta untuk satu tahun,” katanya.
Namun, dari hasil penjualan tiket dan bantuan dari APBD yang diterima Wayang Orang Ngesti Pandowo jauh dari memadai, sebab grup seni tradisional ini harus menghidupi sekitar 100 orang yang terlibat di dalamnya.
“Kami kadang juga harus tombok untuk menutup kekurangan biaya produksi,” kata Cicuk.
Ia mengatakan meskipun uang yang dihasilkan sedikit, semangat para seniman tidak pernah surut. “Justru hal ini memotivasi mereka untuk lebih kreatif,” katanya.
Ketua Dewan Kesenian Daerah Jawa Tengah Bambang Sadono mengatakan rendahnya animo masyarakat menyaksikan wayang orang antara lain disebabkan adanya pilihan media hiburan yang beragam dan lebih praktis bahkan gratis, seperti televisi, internet, dan bioskop.
“Banyaknya pilihan itulah yang membuat animo masyarakat untuk wayang orang kurang. Kondisi sekarang beda dengan zaman dulu ketika hiburan hanya ada wayang saja,” kata Bambang yang juga Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah.
Menurut dia, agar wayang orang tetap diminati, para pelaku seni pertunjukan tradisional ini harus lebih kreatif, terutama dalam mengemas pertunjukan, misalnya merancang panggung yang menarik, tata suara yang baik, serta ruangan yang nyaman.


Sumber : http://wayang.wordpress.com/2010/07/30/kesenian-wayang-orang-kurang-diminati/