
Pagelaran wayang (khususnya pagelaran wayang kulit purwa), seperti
yang kita kenal pada masa sekarang, seringkali dipahami secara
sepotong-sepotong dan tidak lengkap. Bahkan ada yang berpendapat, bahwa
pagelaran wayang selalu dilakukan pada malam hari semata. Ini merupakan
pemahaman yang lazim di kalangan masyarakat kita. Tetapi, apakah kita
pernah memahami bagaimana sebenarnya pelaksanaan pagelaran wayang secara
lengkap?
Pembabakan pagelaran, adalah pembagian pagelaran menjadi
penggal-penggal waktu tertentu, yang kemudian disebut ‘babak’. Setiap
babak dalam suatu pagelaran, masing-masing pada dasarnya mempunyai
dukungan sejumlah unsur pembangun babak; misalnya : adegan, peran,
fungsi, sifat, atau suasana tertentu; baik dalam bentuk sendiri-sendiri,
maupun dalam bentuk gabungan antar sekurang-kurangnya dua unsur atau
lebih.
Pada pagelaran wayang kulît pûrwâ, sebenarnya secara garis besar pembabakannya bisa digolongkan menjadi tiga; yaitu :
Babak awal (babak pembuka); biasanya merupakan berbagai permainan
awal karawitan atau permainan awal ricikan gamelan yang dilakukan di
luar pagelaran wayang kulît pûrwâ.
Babak pagelaran wayang kulît pûrwâ; merupakan permainan karawitan
atau permainan ricikan gamelan, yang mendukung secara langsung
pagelaran wayang kulît pûrwâ.
Babak akhir (babak penutup); biasanya merupakan berbagai
permainan akhir karawitan atau permainan akhir ricikan gamelan yang
dilakukan di luar pagelaran wayang kulît pûrwâ.
Pada pagelaran wayang kulît pûrwâ; penggal-penggal waktu yang disebut
‘babak’ itu, lebih lazim disebut ‘pathet’. Dengan demikian, secara umum
dapat dikatakan bahwa suatu pagelaran wayang kulît pûrwâ,
penggal-penggal waktu permainannya, dapat disebut ‘pathet’.[1] Kesulitan
yang kemudian segera timbul, adalah bahwa penggunaan istilah pathet,
sebenarnya hanya berkenaan secara langsung dengan pembabakan waktu yang
digunakan pada pagelaran wayang kulît pûrwâ saja; dan tidak ada hubungan
sama sekali dengan babak lainnya, yang berada di luar kegiatan
pagelaran wayang kulît pûrwâ. Ini misalnya, bisa dilihat dari penggunaan
istilah babak pathet nem, babak pathet sângâ, atau babak pathet
manyurâ; yang merupakan istilah baku yang sebenarnya hanya digunakan
pada pagelaran wayang kulît pûrwâ.
Dengan demikian, sejumlah babak lainnya yang dilakukan di luar
pagelaran wayang kulît pûrwâ, sebenarnya tidak bisa menggunakan istilah
pathet. Sedangkan kenyataannya, seluruh kegiatan tersebut (dari sejak
babak awal, babak pagelaran, sampai dengan babak akhir), biasanya
merupakan satu kesatuan pertunjukan; yang secara umum seluruhnya itu
disebut ‘pagelaran’.
Jika dikhususkan pada pagelaran wayang kulît pûrwâ, maka pelaksanaan
suatu pagelaran, biasanya pembabakannya dibagi menurut pathet, adegan,
atau gabungan keduanya. Disebabkan adanya kelaziman sebagai akibat
kebiasaan dan tradisi yang sudah berlangsung selama berabad-abad;
pembabakan pagelaran lainnya, seringkali juga mengacu (menggunakan
patokan atau referensi) berupa pembabakan yang digunakan pada pagelaran
wayang kulît pûrwâ. Sedangkan panjang-pendeknya rentang waktu yang
digunakan pada setiap pathet atau setiap babak; biasanya lebih
ditentukan oleh panjang-pendeknya adegan. Meskipun demikian, ada juga
patokan kasar yang bersifat tidak terlalu mutlak harus dipenuhi atau
diikuti; yang berkait langsung dengan penetapan panjang-pendek
penggal-penggal waktu pada pembabakan pagelaran; khususnya yang
digunakan pada pelaksanaan pagelaran wayang kulît pûrwâ.[2]
Patut dipahami pula, bahwa pada masa yang lampau, pagelaran wayang
kulît pûrwâ hanya diiring menggunakan ricikan gamelan ber-laras
(bertangga-nada) sléndro saja dan tidak menggunakan ricikan gamelan
ber-laras (bertangga-nada) pélôg. Disebabkan oleh hal ini, maka
penyebutan babak-babak dalam pagelaran wayang, umumnya menggunakan
istilah-istilah yang hanya dikenal pada laras (tangga-nada) sléndro.[3]
Berdasarkan hasil penelitian para pakar sejarah, penggunaan ricikan
gamelan ber-laras (bertangga-nada) sléndro dan ricikan gamelan ber-laras
(bertangga-nada) pélôg, untuk mengiringi pagelaran wayang kulît pûrwâ,
sebenarnya baru dikenal sejak sekitar masa kerajaan Mataram dan
sesudahnya; yakni setelah terjadi pengembangan sistem pagelaran wayang
kulît pûrwâ dan juga perubahan/pengembangan bentuk/rupa wayang kulît
pûrwâ.[4]
Pembabakan pagelaran yang didasarkan kepada pagelaran wayang kulît
purwâ, merupakan suatu pembabakan yang dapat dikatakan paling lengkap
susunannya. Meskipun permainan gamelan pada masa sekarang tidaklah
selalu digunakan untuk mengiring pertunjukan wayang, tetapi kelaziman
itu tetaplah digunakan dengan penyesuaian seperlunya. Sehingga dengan
demikian, jika lengkap urutan susunan pembabakannya akan dibagi menjadi
sebagai berikut:
Babak pambukâ pagelaran
Babak talu
Babak pathet nem
Babak pathet lindûr
Babak pathet sângâ
Babak pathet nyamat
Babak pathet manyurâ
Babak panutup pagelaran
Jika pembabakannya dilakukan tidak terlalu lengkap; misalnya, jika
babak pathet lindûr dihilangkan atau digabungkan dengan babak pathet
nem; sedangkan babak pathet nyamat dihilangkan atau digabungkan dengan
babak pathet sângâ; maka urutan susunan pembabakannya akan menjadi
sebagai berikut :
Babak pambukâ pagelaran
Babak talu
Babak pathet nem
Babak pathet sângâ
Babak pathet manyurâ
Babak panutup pagelaran
Jika pembabakannya lebih dipersingkat lagi, yaitu misalnya babak
pambukâ pagelaran dan babak panutûp pagelaran dihilangkan; maka urutan
susunan pembabakannya akan menjadi sebagai berikut :
Babak talu
Babak pathet nem
Babak pathet sângâ
Babak pathet manyurâ
Sedangkan jika pembabakannya digunakan untuk keperluan bukan
pagelaran wayang, maka babak talu akan dihilangkan. Ini merupakan
susunan pembabakan yang paling singkat, dan biasanya digunakan untuk
berbagai jenis pagelaran; yang bukan merupakan pagelaran wayang;
misalnya : pagelaran klenèngan, pagelaran uyôn-uyôn, atau sendra-tari.
Dengan demikian, urutan susunan pembabakannya akan menjadi sebagai
berikut :
Babak pathet nem
Babak pathet sângâ
Babak pathet manyurâ
Untuk keperluan pagelaran lainnya, tidaklah selalu mutlak harus
mengikuti pola urutan susunan pembabakan seperti yang telah dijelaskan.
Sebagai contoh, untuk iringan beksan (tarian) yang bersifat pethilan
(cuplikan, potongan; Inggris : fragment), hanya digunakan sebagian;
atau, salah satu babak saja. Demikian pula suatu konser karawitan yang
digunakan untuk mengiring suatu adegan drama (drama radio, televisi,
sinetron, atau film), menggunakan pembabakan yang disesuaikan dengan
kebutuhan.
Dalam pelaksanaan suatu pagelaran, sangat disarankan (sangat
dianjurkan) untuk mengurutkan permainan karawitan sesuai dengan
pathet-pathet yang telah ditentukan. Penetapan pathet ini, berkait erat
dengan suasana dan acuan nada yang tertentu, sesuai dengan pathet yang
bersangkutan. Namun kenyataannya, dalam sejumlah pagelaran,
kadang-kadang diketahui ada juga penyimpangan dalam hal pelaksanaannya.
Misalnya, permainan karawitan sedang pada saat pathet sângâ; tetapi
karena sesuatu hal, para panjak diminta untuk memainkan suatu gendhîng
yang menggunakan pathet manyurâ. Meskipun kejadian ini tidak terlalu
sering dan bukan merupakan kelaziman, namun sesekali terjadi juga.
Kondisi ini, umumnya segera berakibat terjadinya beberapa hal, misalnya:
terjadinya perubahan suasana atau terjadinya perubahan acuan nada.
Selain itu, kondisi ini juga bisa berakibat terjadinya kekeliruan nada
awal suara vokal (Inggris : false) yang fatal, sebagai akibat terjadinya
perubahan acuan nada pada saat yang tidak tepat. Misalnya,
tinggi-rendah suara/nada awal nyanyian yang dilakukan oleh panjak swârâ,
bisa tidak tepat (terlalu tinggi atau terlalu rendah) pada nada yang
seharusnya.
Babak pambukâ pagelaran
Sebuah pagelaran tradisional Jawa, biasanya diawali dengan permainan
sejumlah gendhîng pambukâ pagelaran. Dalam hal ini, gendhîng pambukâ
pagelaran adalah sejumlah gendhîng (lagu) yang dimainkan sebelum
pagelaran yang sesungguhnya dimulai. Jika mengacu kepada pagelaran
wayang kulît purwâ, semalam suntuk atau sehari suntuk, maka permainan
sejumlah gendhîng pambukâ pagelaran lazimnya dilakukan sebelum rangkaian
gendhîng talu dimainkan. Permainan gendhîng pambukâ pagelaran lazim
dilakukan pada pagi hari atau pada sore hari. Tujuan utama dimainkannya
sejumlah gendhîng pambukâ pagelaran, adalah untuk menyambut kedatangan
para tamu, menyemarakkan dan menghangatkan suasana, sebelum pagelaran
yang sesungguhnya dimulai. Selain itu, permainan gendhîng pambukâ
pagelaran juga berperan memberikan tanda bahwa pagelaran akan dimulai.
Di wilayah pedalaman atau pedesaan, permainan gendhîng pambukâ pagelaran
seringkali dimaksudkan untuk memberitahu penduduk desa-desa lain,
supaya mengetahui bahwa di desa tempat gamelan tersebut dimainkan, akan
diadakan suatu pertunjukan atau pagelaran.[5]
Dari segi waktu memainkannya, gendhîng pambukâ pagelaran dapat dibagi
menjadi dua kategori, yaitu klenèngan soré yang dimainkan pada sore
hari; dan klenèngan ésûk yang dimainkan pada pagi hari.
Klenèngan soré; adalah suatu konser karawitan gendhîng pambukâ
pagelaran yang dimainkan pada saat sore hari, menjelang malam hari.
Karenanya, kemudian sering disebut klenèngan soré, pagelaran gendhîng
soré, atau disingkat menjadi gendhîng soré. Penggunaan istilah klenèngan
soré, mempunyai makna bahwa gendhîng-gendhîng-nya dimainkan dengan cara
garap yang lebih halus. Pada pagelaran wayang kulît purwâ semalam
suntuk, permainan gendhîng pambukâ pagelaran lazimnya dilakukan di
antara sekitar pukul lima sore, sampai dengan sekitar pukul delapan
malam; yaitu sampai saat sebelum rangkaian gendhîng talu dimainkan.
Klenèngan ésûk; adalah suatu konser karawitan gendhîng pambukâ
pagelaran yang dimainkan pada saat pagi hari, menjelang siang hari.
Karenanya, kemudian sering disebut sering disebut pagelaran gendhîng
esûk, klenèngan énjîng, klenèngan ésûk, atau disingkat menjadi gendhîng
ésûk. Penggunaan istilah klenèngan ésûk, mempunyai makna bahwa
gendhîng-gendhîng-nya dimainkan dengan cara garap yang lebih halus. Pada
pagelaran wayang kulît purwâ yang dilakukan pada siang hari, permainan
gendhîng pambukâ pagelaran dilaksanakan di antara sekitar pukul lima
pagi, sampai dengan sekitar pukul delapan pagi; yaitu sampai saat
sebelum rangkaian gendhîng talu dimainkan.
Beberapa kebiasaan dan adat tradisi yang sangat baik dan seringkali
diterapkan di daerah-daerah pedalaman atau pedesaan; adalah adanya
berbagai kegiatan gebyakan[6] yang dilaksanakan di dalam waktu yang
dialokasikan untuk memainkan gendhîng-gendhîng pambukâ pagelaran.
Misalnya :
Kegiatan gebyakan karawitan; yaitu suatu pentas konser karawitan
Jâwâ. Dalam kegiatan ini, penabûh atau panjak yang memainkan ricikan
gamelan, biasanya diperankan oleh sekelompok atau beberapa kelompok
anak-anak, pemuda, pemudi, remaja putra/putri, murid-murid sekolah
setempat, ibu-ibu, atau bapak-bapak; yang sedang dalam taraf belajar
nabûh gamelan (membunyikan atau menabuh ricikan gamelan) atau belajar
olah karawitan.[7] Permainannya, seringkali dilakukan secara bergantian
di antara mereka.
Kegiatan gebyakan beksâ; yaitu suatu pentas tari tradisional
Jawa. Dalam kegiatan ini, biasanya penarinya diperankan oleh sekelompok
atau beberapa kelompok anak-anak, pemuda, pemudi, remaja putra/putri,
murid-murid sekolah setempat, ibu-ibu, atau bapak-bapak; yang sedang
dalam taraf belajar olah beksâ[8] (tari tradisional Jawa). Permainannya,
seringkali dilakukan secara bergantian di antara mereka. Karena
merupakan hasil latihan dasar, maka biasanya pentas tarinya dilaksanakan
dalam bentuk yang sederhana. Misalnya : berbentuk tari pethilan
(Inggris : fragment), yaitu tari yang diambil dari potongan suatu cerita
tertentu, atau berbentuk tari lepas.
Kegiatan gebyakan panembrâmâ;[9] yaitu pentas menyanyikan lagu
atau tembang tradisional Jawa, yang dilakukan secara bersama-sama
(koor). Biasanya, kegiatan ini diperankan oleh sekelompok atau beberapa
kelompok anak-anak, pemuda, pemudi, remaja putra/putri, murid-murid
sekolah setempat, ibu-ibu, atau bapak-bapak; yang sedang dalam taraf
belajar olah swara.[10] Permainannya, seringkali dilakukan secara
bergantian di antara mereka.
Kegiatan gebyakan semacam ini, biasanya dilaksanakan dengan tujuan
memberikan kesempatan kepada kelompok anak-anak, pemuda, pemudi, remaja
putra/putri, murid-murid sekolah setempat, ibu-ibu, atau bapak-bapak
pengikut kegiatan latian (berlatih) kesenian (misalnya : karawitan atau
menabuh gamelan, menari, menyanyi, dan sebagainya) di desa tersebut;
untuk menunjukkan dan memamerkan hasil latian (hasil berlatih) atau
hasil kegiatan berkesenian di desa tersebut, di hadapan khalayak ramai,
para tamu, para pemuka desa, para sesepûh atau tetua adat, atau para
pamông prâjâ (para pejabat pemerintah) setempat. Permainan gendhîng
pambukâ pagelaran, diakhiri sesaat menjelang pagelaran yang sesungguhnya
akan dimulai. Pada pagelaran wayang kulît purwâ, permainan gendhîng
pambukâ pagelaran dihentikan pada saat rangkaian gendhîng talu hendak
dimainkan; yaitu sekitar pukul delapan malam; atau, pukul delapan pagi.
Sesuai dengan tujuannya, yang diharapkan akan menyemarakkan suasana
sebelum pagelaran yang sesungguhnya dimulai, serta untuk menyambut para
tamu; maka komposisi gendhîng (lagu) yang dimainkan, biasanya juga
dipilih yang bersuasana gembira, ramai, dan berpola permainan karawitan
sederhana. Permainan gendhîng pambukâ pagelaran, biasanya juga
menampilkan permainan jenis gendhîng sorân atau gendhîng bonangan.
Gendhîng sorân; atau, sering juga disebut klenèngan sorân; adalah
suatu konser karawitan, yang bunyi ricikan gamelan-nya dihasilkan
dengan cara memukul keras-keras; sehingga suara gendhîng (lagu) yang
dihasilkan sangat sorâ (keras, kuat; Inggris : loud). Gendhîng
sorân,umumnya sangat menonjolkan suara keras dan nyaring sejumlah
ricikan balungan tertentu; yaitu : ricikan sarôn panembûng atau ricikan
demûng, ricikan sarôn pambarûng, serta ricikan pekîng. Gendhîng sorân,
biasanya mempunyai rangkaian notasi gendhîng (lagu) yang cenderung
relatif sederhana, dimainkan dengan moda lâyâ tanggûng (sedang), seseg
(cepat), atau lâyâ tamban (lambat); serta moda tabûh sorâ (ricikan
gamelan dibunyikan dengan cara dipukul keras-keras, sehingga bunyi yang
dihasilkan sangat keras/nyaring).
Gendhîng bonangan; adalah sejenis gendhîng sorân, yang permainan
karawitan-nya lebih menonjolkan permainan ricikan bonang pambarûng atau
ricikan bonang barûng serta ricikan bonang panerûs. Gendhîng bonangan,
biasanya mempunyai rangkaian notasi gendhîng (lagu) yang cenderung
relatif sederhana; dimainkan dalam moda lâyâ tanggûng (sedang) atau lâyâ
tamban (lambat); serta moda tabûh sorâ (ricikan gamelan dibunyikan
dengan cara dipukul keras-keras, sehingga bunyi yang dihasilkan sangat
keras/nyaring).
Kedua jenis gendhîng di atas, biasanya dimainkan secara ‘instrumental’ (tidak dilengkapi vokal).
Meskipun tidak ada aturan yang secara khusus mengatur atau
mengharuskan diurutkannya laras (tangga-nada) dan pathet pada permainan
gendhîng pambukâ pagelaran, tetapi sangat dianjurkan untuk mengikuti
pola urutan laras (tangga-nada) dan pathet yang baku dan lazim. Sehingga
pada saat permainan gendhîng pambukâ pagelaran terakhir dimainkan serta
kemudian diakhiri; laras dan pathet diharapkan pada kedudukan laras
sléndro pathet manyurâ; atau, pada kedudukan laras pélôg pathet barang.
Dalam pemilihan pola gendhîng (lagu) yang dimainkannya, dianjurkan
untuk memulai permainan gendhîng pambukâ pagelaran dengan pola gendhîng
(lagu) yang sederhana; misalnya : pola lancaran; dan diakhiri dengan
pola gendhîng (lagu) yang lebih rumit; misalnya : pola ladrang, pola
ketawang, atau pola gendhîng kethûk loro (2) kerep. Dengan demikian,
hirarki serta urutan pola susunan gendhîng, laras, dan pathet, dapat
dicapai secara serasi; dimulai dari susunan gendhîng yang paling
sederhana, dan diakhiri dengan gendhîng yang relatif lebih sulit
susunannya.
Seperti sudah dijelaskan, pola permainan gendhîng pambukâ pagelaran
biasanya sederhana, ramai, dan bersuasana gembira. Namun, pola ini
lazimnya diatur sedemikian rupa, sehingga semakin mendekati saat selesai
dimainkannya gendhîng pambukâ pagelaran (menjelang dimainkannya
rangkaian gendhîng talu), permainan karawitan menjadi semakin tenang.
Lazimnya, pemilihan gendhîng (lagu) juga diatur sedemikian rupa,
sehingga menjelang usai, gendhîng (lagu) yang dimainkan dipilihkan yang
dilengkapi dengan vokal (dilengkapi sindhènan dan gerôngan) dan
menggunakan moda garap yang lebih halus; sehingga berkesan lebih anggun.
Pathet Nem
Bagian pertama dari pembabakan waktu pagelaran wayang, lazim disebut
pathet nem. Pada awalnya pagelaran wayang kulît pûrwâ hanya menggunakan
ricikan gamelan yang ber-laras (bertangga-nada) sléndro. Hal itulah yang
menyebabkan berbagai istilah yang digunakan, juga berasal dari
istilah-istilah yang digunakan pada laras (tangga-nada) sléndro.
Meskipun kemudian pagelaran wayang kulît pûrwâ juga menggunakan laras
(tangga-nada) pélôg, namun penyebutan yang menggunakan istilah berasal
dari laras (tangga-nada) sléndro ini tetap dipakai; bahkan berlangsung
sampai saat ini. Gendhîng-gendhîng (lagu) yang dimainkan pada babak
pathet nem, khususnya pada pagelaran wayang kulît pûrwâ, umumnya juga
meliputi menggunakan laras (tangga-nada) sléndro pathet nem dan laras
(tangga-nada) pélôg pathet limâ.
Kadang-kadang, pada babak pathet nem juga dimainkan gendhîng-gendhîng
laras (bertangga-nada) sléndro pathet manyurâ, atau bahkan
gendhîng-gendhîng laras (bertangga-nada) pathet pélôg nem; yang
‘dipinjam’ untuk digunakan atau dimainkan pada babak pathet nem. Pola
ini disebut ‘pathet silihan’ (pathet yang dipinjam).
Adegan-adegan yang digunakan untuk mendukung pagelaran wayang kulît
pûrwâ pada pathet nem, jika dilakukan secara lengkap, terdiri atas :
Adegan jejer jangkep pathet nem
Adegan miji punggâwâ
Adegan tamu rawûh
Adegan jengkar kedhatôn/bedhôlan
Adegan gapuran
Adegan jejer kedhatôn
Adegan jejer paséban njawi
Adegan budhalan
Adegan prampôgan
Adegan jejer sabrang
Adegan budhalan sabrang
Adegan perang gagal
Adegan pathet lindûr
Adegan-adegan tersebut di atas, belum tentu seluruhnya ada
(digunakan) dalam suatu pagelaran wayang; melainkan disesuaikan dengan
keperluan. Setiap adegan pada pathet nem, lazimnya diiring
gendhîng-gendhîng tertentu yang sesuai karakternya dengan adegan yang
dimaksud. Dalam beberapa hal, gendhîng-gendhîng itu bahkan mempunyai
sifat dan cara garap yang juga berbeda.
Pathet Lindûr
Babak pathet lindûr, adalah suatu adegan (bisa juga berbentuk suatu
jejer) yang dilaksanakan menjelang akhir seluruh permainan babak pathet
nem. Adegan pathet lindûr, biasanya merupakan adegan yang relatif
pendek. Selain itu, fungsi adegan ini adalah sebagai ‘babak peralihan’
atau ‘babak transisi’; yakni dari babak pathet nem ke babak pathet
sângâ. Secara hirarki pembabakan, sebenarnya babak pathet lindûr masih
termasuk ke dalam babak pathet nem (masih menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari babak pathet nem). Namun jika melihat kepada fungsi dan
suasana yang dibangkitkannya; maka sebenarnya babak pathet lindûr
merupakan suatu babak tersendiri; yang posisinya berada di antara babak
pathet nem dan babak pathet sângâ.
Jika pada adegan sebelumnya (terutama pada pertengahan babak pathet
nem), pagelaran wayang lazim diiring menggunakan gendhîng-gendhîng yang
umumnya sangat dinamis; maka pada adegan ini iringan menjadi sangat
berbeda. Umumnya, iringan gendhîng yang digunakan pada babak pathet
lindûr, mempunyai moda garap yang lebih lurûh (lebih tenang). Bahkan,
sejak tahun 1970-an sampai sekarang, ada upaya untuk mengubah suasana
babak pathet lindûr secara lebih extrim.[11] Sebagai contoh, pada
pagelaran wayang kulît pûrwâ gagrak (gaya, corak) Surâkartâ masa
sekarang, babak pathet lindûr seringkali diiring menggunakan pola
permainan karawitan gagrak (gaya, corak) Mataram. Pada masa dahulu, hal
ini termasuk salah satu yang ditabukan, karena dianggap ‘nerak pakem’
(melanggar aturan baku); yakni mencampur-adukkan gagrak (corak, gaya).
Istilah lindûr, berasal dari kata ‘nglindûr’; yang artinya : orang
yang bermimpi, sambil mengucapkan kalimat atau kata-kata yang tidak
begitu jelas. Mimpi seperti ini, biasanya berlangsung pada saat hari
belum mencapai tengah malam. Memang babak pathet lindûr biasanya
dimainkan pada waktu yang bersamaan dengan saat orang ‘nglindûr’; yakni
menjelang tengah malam. Secara filosofis, hal ini juga berkait erat
dengan alur cerita dalam pagelaran wayang, yang pada saat sampai pada
babak itu, masih penuh dengan ketidak-jelasan.
Penggarapan vokal pada babak pathet lindûr, umumnya juga agak mengacu
kepada kondisi orang yang sedang nglindûr. Misalnya, menggunakan lûk
céngkôk atau lekuk-liku alunan suara yang irâmâ-nya relatif sangat
lambat, pengucapan kalimat atau kata yang relatif panjang, dan
kebanyakan juga menggunakan suara yang bernada tinggi. Kesan nglindûr
ini, terasa sangat kuat (dominan), pada saat dhalang melagukan sulukan
pathet lindûr; yang biasanya di-tembang-kan pada saat-saat akhir
(sebagai penutup) seluruh permainan babak pathet nem; menjelang
pergantian ke babak pathet sângâ.
Pathet Sângâ
Babak pathet sângâ, pada pagelaran wayang kulît pûrwâ, merupakan
suatu istilah yang lazim digunakan untuk menyebut pembabakan waktu
tengah pagelaran; yang menggunakan laras (tangga-nada) sléndro pathet
sângâ atau laras (tangga-nada) pélôg pathet nem. Babak ini, umumnya
dimainkan pada sekitar tengah malam (jika pagelaran wayang kulît pûrwâ
dilaksanakan malam hari); atau pada sekitar tengah hari (jika pagelaran
wayang kulît pûrwâ dilaksanakan pada siang hari).
Pada awalnya, pagelaran wayang kulît pûrwâ hanya menggunakan ricikan
gamelan yang ber-laras (bertangga-nada) sléndro. Hal itulah yang
menyebabkan berbagai istilah yang digunakan, berasal dari
istilah-istilah yang digunakan pada laras (tangga-nada) sléndro.
Meskipun kemudian pagelaran wayang kulît pûrwâ juga menggunakan laras
(tangga-nada) pélôg, namun penyebutan yang menggunakan istilah berasal
dari laras (tangga-nada) sléndro ini tetap dipakai.
Gendhîng-gendhîng yang dimainkan pada babak pathet sângâ, secara umum
bersuasana lurûh (tenang), bernada dasar lagu rata-rata relatif agak
tinggi; dengan pengecualian yang digunakan untuk mengiring beberapa
adegan tertentu, yang menghendaki suasana yang lain. Disebabkan faktor
sejarah dan kebiasaan, babak pathet sângâ sebagian besar diiring
menggunakan gendhîng-gendhîng laras (bertangga-nada) sléndro pathet
sângâ. Sementara gendhîng-gendhîng laras (bertangga-nada) pélôg pathet
nem, yang secara umum bersuasana agak sereng (kurang tenang), bernada
dasar lagu relatif agak tinggi; agak kurang banyak digunakan; kecuali
untuk beberapa adegan tertentu yang memerlukannya.
Adegan-adegan yang digunakan untuk mendukung pagelaran wayang kulît pûrwâ pada pathet sângâ, jika lengkap terdiri dari :
Adegan jejer jangkep pathet sângâ
Adegan banyôlan
Adegan satriyâ lumaksânâ
Adegan alas-alasan
Adegan gârâ-gârâ
Adegan miji punggâwâ
Adegan perang kembang
Adegan jejer pathet nyamat
Adegan-adegan tersebut di atas, belum tentu seluruhnya ada dalam
pagelaran wayang, melainkan disesuaikan dengan keperluan. Setiap adegan
pada pathet sângâ, lazim diiring gendhîng-gendhîng tertentu, yang
masing-masing mempunyai sifat dan cara garap yang berbeda.
Pathet Nyamat
Babak pathet nyamat, secara hirakis pembabakan, sebenarnya masih
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari babak pathet sângâ. Namun
disebabkan perannya yang berfungsi sebagai transisi; babak ini
seringkali dianggap berdiri sendiri di antara babak pathet sângâ dan
babak pathet manyurâ.
Babak pathet nyamat, adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menyebut suatu adegan jejer yang dilaksanakan setelah selesainya adegan
perang kembang. Adegan pada babak pathet nyamat ini, seringkali
digunakan sebagai peralihan (transisi) dari babak pathet sângâ ke babak
pathet manyurâ. Karena merupakan babak peralihan (babak transisi), maka
gendhîng yang digunakan sebagai pengiring umumnya mempunyai rangkaian
notasi yang relatif pendek.
Bahkan ada dhalang yang lebih suka melakukannya dengan pendekatan
yang sedikit berbeda. Misalnya, adegan jejernya dilakukan menggunakan
iringan gendhîng pathet sângâ. Setelah permainan gendhîng dihentikan dan
jejer dilaksanakan secukupnya (masih dalam babak pathet sângâ);
kemudian di tengah-tengah ântâwacânâ (dialog) antar tokoh wayang,
dhalang ‘memindahkan’ suasana dan babak secara seketika, menjadi babak
pathet manyurâ menggunakan sulukan (nyanyian dhalang).

Gendhîng-gendhîng yang secara khusus digunakan untuk mengiring adegan
jejer pada babak pathet nyamat, biasanya mempunyai karakter yang juga
bersifat transisional. Dalam hal ini, terjadi sejumlah anomali (kelainan
atau ketidak-sesuaian) yang berhubungan dengan kesepakatan/pembakuan
aturan penggunaan nada-nada tertentu pada suatu pathet tertentu.
Pada sejumlah kasus, gendhîng-gendhîng yang dinyatakan sebagai
gendhîng laras sléndro pathet nyamat; ada kecenderungan sudah
menggunakan gông bernada nem (6); tetapi suasana gendhîng-nya secara
umum masih berkesan mempunyai suasana pathet sângâ yang terasa masih
sangat dominan. Untuk diketahui, penggunaan gông yang bernada nem (6);
biasanya digunakan pada gendhîng-gendhîng laras sléndro pathet manyurâ
atau gendhîng-gendhîng laras sléndro pathet nem; dan bukannya pada laras
sléndro pathet sângâ.
Pada sejumlah kasus, gendhîng-gendhîng yang dinyatakan sebagai
gendhîng laras pelôg pathet nyamat; ada kecenderungan sudah menggunakan
gông bernada dhadha (3) atau barang (7); tetapi suasana gendhîng-nya
secara umum masih berkesan mempunyai suasana pathet sângâ (laras pelôg
pathet nem) yang terasa masih sangat dominan. Untuk diketahui,
penggunaan gông yang bernada dhadha (3) atau barang (7); biasanya
digunakan pada gendhîng-gendhîng laras pelôg pathet barang; dan bukannya
pada laras pelôg pathet nem.
Adegan jejer pada babak pathet nyamat, tidak selalu ada pada setiap
pagelaran wayang kulît pûrwâ. Penggunaannya, lebih banyak ditentukan
oleh kebutuhan pagelaran dan alur cerita. Secara garis besar, babak
pathet nyamat merupakan bagian paling akhir dari seluruh bagian dan
adegan dari babak pathet sângâ.
Pathet Manyurâ
Babak pathet manyurâ, pada pagelaran wayang kulît pûrwâ, merupakan
suatu istilah yang lazim digunakan untuk menyebut pembabakan waktu akhir
pagelaran yang menggunakan laras (tangga-nada) sléndro pathet manyurâ
dan laras (tangga-nada) pélôg pathet barang.
Penggunaan istilah pathet manyurâ, sebenarnya kurang tepat, karena
nyatanya pada masa penggunaannya dikenal adanya pemakaian laras
(tangga-nada) sléndro pathet manyurâ dan juga laras (tangga-nada) pélôg
pathet barang. Namun harus kita ingat, bahwa pada masa dahulu pagelaran
wayang kulît pûrwâ hanya menggunakan ricikan gamelan laras (tangga-nada)
sléndro saja. Karenanya, kemudian hanya dikenal istilah ‘pathet
manyurâ’, yang sebenarnya merupakan pemendekan atau berasal dari
istilah ‘laras sléndro pathet manyurâ’.
Adegan-adegan yang digunakan untuk mendukung pagelaran wayang kulît
pûrwâ, pada babak pathet manyurâ, jika lengkap, terdiri dari :
Adegan jejer jangkep pathet manyurâ
Adegan jejer pathet manyurâ srambahan
Adegan perang brubûh
Adegan tayungan
Adegan tancep kayôn
Adegan golèk
Setiap adegan tersebut di atas, belum tentu seluruhnya ada pada
setiap pagelaran wayang kulît pûrwâ. Selain itu, setiap adegan tersebut,
umumnya mempunyai gendhîng-gendhîng pengiringnya yang bersifat khas.
Panutup pagelaran
Babak panutup pagelaran, merupakan bagian terakhir dari suatu
pagelaran. Babak ini, digunakan untuk menutup sebuah pagelaran. Waktu
yang digunakan untuk melakukan babak ini, biasanya sangat pendek.
Biasanya, dilakukan para panjak dengan cara memainkan satu buah gendhîng
panutup pagelaran yang bersifat khas. Gendhîng semacam ini, biasanya
dirancang dan disesuaikan dengan kelompok, grup, lembaga, instansi,
dinas, perusahaan, atau organisasi kesenian para panjak. Namun,
kadang-kadang bisa juga ditemukan ada sekelompok panjak yang memainkan
suatu konser karawitan secara lengkap sebagai penutup suatu pagelaran,
sehingga memakan waktu cukup panjang. Pada penutupan pagelaran wayang
kulît pûrwâ, memainkan gendhîng panutûp pagelaran secara lengkap dan
panjang, umumnya bertujuan menghabiskan waktu; atau, untuk menunggu pagi
hari (setelah melakukan pagelaran wayang kulît pûrwâ semalam suntuk).
_________________________________________________________
[1] Istilah pathet, mempunyai beberapa pengertian yang
berlainan makna dan artinya. Penjelasan rinci tentang pathet; dibahas
pada bagian lain dari buku ini.
[2] Tentang hal ini, dibahas secara khusus pada bagian lain dari buku ini.
[3] Adanya sejumlah istilah atau sebutan pada pembabakan
pagelaran, misalnya, sebutan untuk pathet; yang pada dasarnya mengacu
kepada berbagai istilah yang hanya terdapat pada laras (tangga-nada)
sléndro; sedikit-banyak juga membuktikan bahwa laras (tangga-nada)
sléndro kemungkinan besar memang sudah ada lebih dahulu.
[4] Situasi ini terjadi sebagai akibat masuk dan berkembangnya
agama Islam di pulau Jawa. Pengembangan dan perubahan bentuk/rupa wayang
kulît pûrwâ oleh para wali pada masa itu, disebabkan agama Islam
memerlukan media untuk melakukan penyebaran agama; sedangkan agama Islam
tidak memperbolehkan penggunaan bentuk yang menyerupai manusia. Salah
satu penyebabnya, adalah untuk menghindari terjadinya proses pemujaan
terhadap benda-benda yang mirip manusia, sehingga bisa dianggap setara
dengan pemujaan berhala. Dengan alasan itu, bentuk/rupa wayang kulît
pûrwâ lalu dikembangkan, diubah, dan disederhanakan (distilasi);
sehingga seperti yang kita lihat sekarang. Bentuk/rupa wayang kulît
pûrwâ pada masa sebelumnya, lebih realistis, lebih mirip dengan gambar
bentuk/rupa manusia dilihat dari arah samping depan.
Bentuk/rupa gambar manusia pada lukisan wayang tradisional Bali (yang
sampai sekarang masih banyak dibuat orang), yang menggambarkan
tokoh-tokoh atau manusia dari arah samping depan; merupakan cara
penggambaran yang berasal dari ratusan tahun yang lampau, dan terbukti
tidak mengalami perubahan sama sekali (hanya sarana atau alat gambar dan
media gambarnya yang berubah)
Bentuk/rupa wayang kulît pûrwâ versi Jawa pada masa lampau, bisa
dilihat pada wayang kulît pûrwâ versi Bali (yang masih dimainkan orang
sampai saat ini). Demikian pula bentuk pagelaran wayang kulît pûrwâ
versi Jawa pada masa lampau; kira-kira sama dengan bentuk pagelaran
wayang kulît pûrwâ versi Bali. Seperti diketahui, bentuk/rupa awal
wayang kulît pûrwâ versi Bali, pada dasarnya berasal dari pulau Jawa
(khususnya Jawa Timur). Bentuk/rupa asli wayang pûrwâ versi Jawa atau
versi Bali ini (berbentuk gambar orang/manusia dilihat dari samping
depan), bisa dilihat pada gambar-gambar timbul (relief) di dinding candi
Penataran (di Jawa Timur). Pagelaran wayang kulît pûrwâ versi Bali,
hanya menggunakan ricikan gamelan ber-laras (bertangga-nada) sléndro,
dan tidak menggunakan ricikan gamelan ber-laras (bertangga-nada) pélôg.
Sisa-sisa bentuk/rupa asli wayang pûrwâ, masih bisa kita kenali pada
sejumlah tokoh wayang kulît pûrwâ gagrak Mataram (Yogyâkartâ).
Ciri-cirinya, digambarkan mempunyai dua buah mata; wajahnya dilihat dari
arah samping depan; serta mempunyai bentuk tubuhnya lebih pendek,
sehingga lebih mewakili bentuk tubuh manusia dengan proporsi yang lebih
realistis. Tokoh-tokoh wayang kulît pûrwâ yang bisa dianggap mewakili
bentuk/rupa asli ini, misalnya : Anôman, atau tokoh-tokoh yaksâ
(raksasa).
[5] Di wilayah pedalaman, suara gamelan bisa mencapai jarak
yang relatif jauh (beberapa kilometer), tanpa bantuan perangkat sistem
penguat suara.
[6] Gebyakan, adalah suatu kegiatan pentas, yang dilaksanakan
sebagai salah satu cara untuk mempertunjukkan hasil suatu proses belajar
atau berlatih, selama beberapa waktu tertentu; misalnya : pentas tari,
pentas karawitan, pentas drama, pentas menyanyi, dan sebagainya.
[7] Olah karawitan, adalah belajar dan berlatih untuk menguasai
berbagai segi yang berhubungan dengan karawitan atau kemampuan
memainkan ricikan gamelan.
[8] Olah beksâ, adalah belajar dan berlatih untuk menguasai
berbagai segi yang berhubungan dengan beksa (tari) atau kemampuan
menari.
[9] Panembrâmâ, setara artinya dengan koor (menyanyi secara bersama-sama). Di Jawa Barat, lazim disebut rampak sekar.
[10] Olah swârâ, adalah belajar dan berlatih untuk menguasai
berbagai segi yang berhubungan dengan seni suara atau kemampuan untuk
menyanyi dan menghasilkan mutu suara yang baik.
[11] Pola mengiringi babak pathet lindûr menggunakan gendhîng
dan pola permainan karawitan gagrak (gaya, corak) Mataram ini, dimulai
oleh Ki Nartô Sabdô almarhum; sejak sekitar tahun 1970-an. Pada masa
itu, cukup banyak kalangan pecinta seni karawitan Jawa, yang menentang
upaya Ki Nartô Sabdô ini; karena dianggap ‘nerak pakem’ (melanggar
aturan baku). Pada masa itu, Ki Nartô Sabdô, menggunakan dan
menggabungkan berbagai pola dan gagrak (corak, gaya, mahzab) permainan
karawitan secara bebas. Secara umum, sebenarnya beliau mendasarkan pola
permainan karawitan-nya pada gagrak (gaya, corak) Surâkartâ. Tetapi,
mungkin karena dinamika dan kreatifitasnya yang sangat tinggi, beliau
bisa menggabungkan berbagai gagrak (gaya, corak) ke dalam pola permainan
karawitan-nya. Misalnya, gagrak Semarang, gagrak Surâkartâ, gagrak
Mataram, gagrak Jâwâ-Timûr, atau gagrak Banyumas.
Ki Nartô Sabdô almarhum, tinggal di kota Semarang (rumah beliau, di
jalan Anggrek, sedikit di sebelah utara lapang Simpang Lima, yang sangat
terkenal di kota Semarang). Ini mungkin juga merupakan salah satu
faktor penting. Karena dengan tinggal di kota Semarang yang jauh dari
pusat-pusat mahzab lainnya (misalnya : Surâkartâ atau Yogyâkartâ), maka
beliau dengan mudah bisa menghindarkan diri dari terjadinya berbagai
pengaruh kuat dan benturan kepentingan. Selain itu, pada masa itu tidak
ada dhalang lain yang bertindak seberani Ki Nartô Sabdô almarhum, dalam
hal melakukan berbagai pengubahan, pengembangan, dan pola garap
karawitan. Hal ini, dikerjakan secara sangat intensif bersama kelompok
(grup) keseniannya, yang bernama ‘Côndông Raôs’. Berbagai gendhîng
(lagu) yang sangat khas, telah dibuat oleh Ki Nartô Sabdô. Jumlahnya,
mungkin telah mencapai ratusan; dan sampai saat ini gendhîng-gendhîng
hasil karyanya ternyata masih disukai dan masih digunakan orang;
termasuk oleh para dhalang lainnya.

Sejak tahun 1970-an itu, karena pengaruhnya yang sangat kuat, dan
karena masyarakat pencinta kesenian Jawa ternyata lebih bisa menerima
dan bahkan sama sekali tidak mempersoalkannya; maka pola permainan
seperti ini akhirnya diterima juga oleh berbagai kalangan lain, yang
semula menentangnya. Perlu diketahui juga, bahwa pada masa itu, melalui
angket yang dibuat Radio Republik Indonesia (RRI), Ki Nartô Sabdô bahkan
pernah menerima ‘gelar’ sebagai dhalang paling populer (paling disukai)
oleh masyarakat. Bahkan di antara dhalang-dhalang lain, lama sesudah
beliau meninggal sekalipun, nama Ki Nartô Sabdô rupanya tidak bisa
dihilangkan begitu saja. Ini bisa dibuktikan, dengan masih banyaknya
stasiun pemancar radio (terutama stasiun pemancar radio swasta niaga)
yang dengan setia menyiarkan berbagai hasil rekaman pagelaran wayang
kulît pûrwâ yang dimainkan oleh Ki Nartô Sabdô almarhum; atau menyiarkan
rekaman permainan karawitan-nya yang sangat khas. Pada masa ini, bahkan
dengan mudah orang masih bisa membeli rekaman pagelaran wayang atau
rekaman gendhîng uyôn-uyôn (dalam bentuk kaset), yang dimainkan oleh Ki
Nartô Sabdô almarhum bersama kelompoknya, duapuluh atau tigapuluh tahun
yang lampau.
sumber : http://wayang.wordpress.com/2011/06/02/pembabakan-pagelaran-wayang/